Kamis, 15 Desember 2011

Sejarah Peradaban Islam (Ali bin Abi Thalib)


BAB II
PEMBAHASAN

2.1     Biografi Ali bin Abi Thalib
            Perkawinan Abu Thalib bin Abdu-Muttalib bin Hasyim bin  Abdu-Manaf dengan Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdu-Manaf merupakan pertama kali terjadi antara sesama keluarga Hasyim. Moyang mereka bertemu pada Hasyim, meskipun Asad hanya saudara  dengan Abdul-Muttalib
            Dari pasangan ini kemudian lahir anak laki-laki , yang oleh ibunya ketika lahir diberi nama Haidarah,atau Haidar yang berarti singa, seperti nama ayahnya, Asad, yang juga berarti singa. Tetapi Abu Talib memberi nama ‘Ali yang berarti luhur, tinggi dan agung, nama yang kemudian lebih dikenal, nama yang memang sesuai dengan sifat-sifatnya. Ali orang pertama dari kalangan kuraisy yang lahir dari ibu-bapak sama-sama dari Bani Hasyim. Sebelum itu keluarga Bani Hasyim selalu bersemenda dengan keluarga lain di luar mereka.
            Berbadan tambun, kekar disertai bahu yang bidang, sepasang mata yang lebar menghiasi wajah yang tidak terlalu putih, dengan janggut dan cambang yang lebat. Bulu badannya juga serba lebat. Hidung yang mancung serasi dengan sepasang mata yang menyorot tajam di bawah alis kanan kiri yang hamper bertaung. Perpaduan kaki dan tangan yang kuat dan kekar diimbangi sosok yang sedang, tidak terlalu gemuk dengan perut gendut. Tidak terlalu tinggi, juga tidak pendek. Berjalan cepat dan agak condong ke depan, mirip-mirip cara sepupunya, Muhammad. Sejalan dengan usia yang semakin lanjut kepalanya tak lagi berambut, botak dari bagian depan kepala sampai ke belakang. Watak dan keberanian Ali dalam perang serta suaranya yang lantang bergetar dapat menggetarkan hati musuh. Dalam menghadapi musuh ia sendiri tak pernah memulai, tetapi kalau diserang tak pernah mundur. Kendati musuh terdiri dari 3 , 4, orang, ia pantang mundur. Ali pernah dipercaya untuk memimpin perang seperti perang badar.
            Ia dilahirkan di Mekkah, tepatnya di Ka’bah, Masjidil Haram, di kota kelahiran Bani Hasyim, Jum’at 13 Rajab (sekitar tahun 600 Masehi). Orang berbeda pendapat mengenai tahun kelahirannya ini. Kalau dikatakan ia lahir 32 tahun setelah kelahiran Muhammad, mungkin didasarkan pada catatan sejarah, yang pada umumnya menyebutkan, bahwa sepupunya itu lahir pada tahun 570 Masehi.
            Ali, begitu pertama kali rohaninya terbuka, hanya mengenal cahaya islam dan tatkala dalam usia 10 tahun ia sudah menerima islam, tanpa ragu sedikitpun, tanpa berunding dengan siapapun. Beliau merupakan bocah yang pertama kali masuk islam, sebagaimana halnya Khodijah adalah wanita yang pertama kali masuk islam, Zaid bin Haritsah adalah budak yang pertama kali masuk islam, Abu Bakkar adalah lelaki merdeka yang pertama kali masuk islam.Ali makin teras .Sebagi suami-istri mereka hidup sangat Harmonis,sampai ia meninggal enam bulan sesudah kamatian ayahnya .Fatimah inilah Ibunda Hasan dan Husain putra-putra Ali.Sudah tentu,kedua cucu ini mendapat tempat tersendiri dalam hati Rasulullah. 
Setelah dewasa dan sudah menikah dengan Fatimah az-Zahra pada bulan Dzulhijjah tahun ke 2 setelah Hijrah( Juni 624), telah menjadi kebiasaan masyarakat Arab, ia kadang dipanggil dengan beberapa nama seperti Abu al-Hasan, bapak atau ayah Hasan, anak sulung Ali, Abu as-Sibtain, ayah 2 cucu, yakni kedu cucu Rasulullah yakni Hasan dan Husein. Hasan sendiri memanggil ayahnya dengan Abul-Husein dan Husein memanggilnya Abul-Hasan. Abu Thurab merupakan nama panggilan yang diberikan oleh Nabi saw, Abu yang berarti bapak dan Thurab yang artinya tanah gembur.      
2.2     Proses Masuk Islam
            Ali bin Abi Thalib masuk islam ketika ia berusia 10 tahun tanpa rasa ragu dan tanpa berunding pada siapapun. Hatinya mulai terbuka ketika beliau melihat Nabi dan Khodijah sedang sholat, tiba-tiba Ali menyeruak masuk. Ia tidak mengerti ketika ia melihat kedua orang itu sedang rukuk dan sujud serta membaca beberapa ayat Al-qur’an yang sudah diwahyukan kepadanya sampai waktu itu. Kemudian Ali berkata” Kepada siapa kalian bersujud ?” . Kemudian Rasulullah menjawab “ Kami bersujud kepada Allah, yang mengutusku menjadi Nabi dan memerintahkan aku mengajak manusia menyembah Allah. Lalu Nabi pun mengajak sepupunya itu beribadah kepada Allah semata, tidak bersekutu, menerima agama yang dibawa Nabi utusan-Nya dengan meninggalkan berhala-berhala semacam Lat dan Uzza. Muhammad membacakan beberapa ayat Al-Qur’an. Ali sangat terpesona, karena ayat-ayat itu dirasakan luar biasa indahnya.
            Ia meminta waktu akan berunding dengan ayahnya lebih  dulu.Semalaman ia merasa gelisah.Tetapi esoknya ia memberitahukan kepada suami-istri itu , bahwa ia akan mengikuti mereka berdua , tidak perlu meminta pendapat Abu Thalib.
            Selain Khadijah,perempuan pertama yang  menerima islam , dikalangan laki-laki adalah Ali .Dia yang pertama masuk islam , yang pertama pula dari Bani Hasyim dan dari kalangan anak muda,yang ketika itu belum akil balikh.Kalu Abu Bakar laki-laki dewasa pertama masuk islam,maka Zaid bin Haritsah,bekas budak pertama masuk islam.Karnanya,Ali menghormati dan mencintai semua orang yang dicintai oleh Rasulullah.Sejak lahir , begitu membuka mata,ia sudah bergaul dengan Muhammad,yang diasuh ayahnya,di rumah ayahnya.Sejak itu hampir dalam semua kegiatan ia bersama Muhammad.Sesudah umur beranjak dewasa , masih juga ia berpikir-pikir,bagaimana akan mengajak Khuraisy yang lain ke dalam lingkungan ini.Tahu benar ia,betapa kerasnya mereka dan betapa pula kuatnya mereka berpegang pada penyembahan  berhala,sesembahan nenek moyang mereka itu.
            Karena kesertaan mereka yang mula-mula dalam islam dan persahabatan dengan Rasulullah , mereka mendapat tempat di hati muslimin.Diantara mereka ada yang masih dalam hubungan kerabat dengan Rasulullah.Ini juga yang menambah kedakaatan mereka di hati orang,dan sudah tentu Ali bin Abi Thalib Adalal kerabat dan hubungan keluarga terdekat dengan Rasulullah.Dia adalah sepupunya , yakni pamannya Abu Thalib bin Abdul- Muttalib,dan Abu Thalib ini pulalah yang mengasuh Muhammad sejak mudanya setelah kakeknya Abdul-Muttalib meninggal.Kecintaannya yang begitu besar kepada Muhammad serta pembelaan dan perlindungannya dari gangguan Kuraisy setelah ke Rasullannya ,sudah cukup sejak masa mudannya.Dengan demikian ia membalas budi pamannya Abu Thalib dengan sebaik-baiknya.
2.3     Pengangkatan Ali bin Abi Thalib menjadi Khalifah      
            Muslimin dalam kesedihan yang sangat mendalam,dan dalam kebingungan setelah kematian Usman.Selama lima hari berikutnya mereka tanpa pemimpin . Sejarah sedang kosong untuk Madinah,selain memberontak selama itu pula membuat kekacauan dan menanamkan ketakutan di hati orang.
            Kaum pemberontak mengadakan pendekatan kepada Ali bin Abi Thalib dengan maksud mendukungnya sebagai khalifah,dipelopori oleh Al-Ghafiqi dari pemberontak Mesir sebagai kelompok terbesar .Tapi Ali menolak. Setelah Khalifah Usaman tak ada orang lain yang pantas menjadi khalifah daripada Ali bin Abi Thalib . Dalam kenyatannya Ali memang merupakan tokoh paling populer saat itu.Disamping itu,memang tak seorang pun ada yang mengklaim atau mau tampil mencalonkan diri atau dicalonkan untuk menggantikan khalifah Usman,termasuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan selain nama Ali bin Abi Thalib.Disamping itu ,mayoritas umat muslimin di Madinah dan kota-kota besar lainnya sudah memberikan pilihannya pada Ali,kendati ada juga beberapa kalangan,kebanyakan dari Bani Ummayyah yang tidak mau membaiat Ali,dan sebagian dari mereka ada yang pergi ke Suria.
            Selain mereka, ada beberapa sahabat penting di Madinah, dari Muhajirin dan Ansor, seperti Sa’d bin Abi Waqqas, Muhammad bin Maslamah, Usamah bin Zaid, Hasan bin Zabit, Abdullah bin Umar r.a, dan beberapa lagi yang lain.
            Rupanya Sa’d bin Abi Waqqas tidak ingin jika masih ada golongan di luar yang tidak sepakat.Ia baru akan membai’atnya apabila Muslimin yang lain juga membai’at. Pendiriannya itu diikuti juga oleh sahabat-sahabat yang lain selain yang sudah disebutkan tadi Ka’b bin Malik, Abu Sa’id al-Khudri, Abdullah bin Sallam, Nu’man bin Basyir, Zaid bin Sabit ddan Mugirah bin Syu’bah, radiyallahu ‘anhum. Seperti Ali, mereka juga tidak ingin ada perpecahan dalam tubuh umat.Namun  karena berbagai desakan, Ali meminta masalah ini di bawa ke Masjid Nabawi. Ternyata kebanyakan sahabat di Madinah melihat dialah yang paling tepat menjadi khalifah setelah Usman r.’a.
            Sebenarnya bukan ini yang diinginkan oleh Ali. Kedudukannya sekarang memang serba sulit. Tetapi kalau dia mundur, juga salah. Mayoritas mereka tetap mendesak Ali agar Ali bersedia dibaiat. Umat tidak boleh terlalu lama tanpa iman, tanpa pemimpin. Dalam keadaan yang masih kacau setelah terjadi pemberontakan sampai Khalifah terbunuh, keadaan memang sangat eksplosif. Akibatnya perpecahan akan bertambah parah, umat akan saling curiga. Bukan tidak mungkin akan berakibat pecah perang saudara justru di Madinah. Jalan tengah baginya harus menerima kenyataan. Atas pertimbangan itu akhirnya Ali pun setuju memikul tanggung jawab yang amat berat itu.
            Bagaimanapun mayoritas Muslimin di Madinah sudah membaiat Ali r.’a. Kalau ada beberapa orang sahabat yang belum bersedia membai’atnya, hanya karena situasi politik waktu itu. Ini tidak berarti bahwa kekhalifahan tidak di terima oleh sebagian besar Muslimin. Waktu itu tak ada orang yang menuntut kekhalifahan, termasuk Mu’awiyah. Perbedaan di antara mereka menyangkut soal para pembunuh dan bentuk hukuman yang akan dijatuhkan kepada mereka. Agak berbeda sedikit dengan sumber-sumber di atas, adda juga yang mengatakan, bahwa pagi itu Talhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam serta sahabat-sahabat Rasulullah dari kalangan Muhajirin dan Ansar sedang berkumpul. Mereka akan menemui Ali bin Abi Thalib di rumahnya, dan dalam  dialog mereka dengan Al, tanpa ragu Thalhah dan Zubair akan membai’atnya. Juga tak disebut-sebut adanya intervensi kaum pemberontak
            “Kita harus punya seorang iman,” kata mereka pada Ali.
            “Saya tak ada urusan dengan kalian. Siapapun yang kalian pilih saya setuju,”jawab Ali.
            “Kami hanya akan memilih Anda.”
            Setelah itu berulang kali mereka mendatangi Ali, dan akhirnya mereka berkata:
            “Tetapi kami tidak melihat ada orang lain yang lebih berhak untuk itu, yang lebih dulu dalam islam dan yang lebih dekat kepada Rasulullah saw, selain Anda.”
            “Jangan! Lebih baik saya menjadi wazir daripada menjadi amir.”
            Orang ramai masih berdatangan, bergelombang, dari penduduk Madinah, dari kota-kota lain dan orang-orang Arab pedalaman.
            “Kami hanya akan membai’at Anda. Itulah kunci tekad kami. Anda sudah melihat segala sesuatu yang sudah menimpa Islam. Sudah cukup kita mengalami cobaan di beberapa tempat.”
            “Kalian membai’at saya kalau mau, atau saya akan membai’at kalian bendua,”kata Ali. Ketika itu juga dib alas oleh Thalhah dan Zubair:
            “Tidak, Anda yang harus dibai’at.”
            “Biarkan saya,”kata Ali,”carilah yang lain. Kita sedang menghadapi  masalah  beraneka macam yang cukup rumit, yang tak akan begitu saja dapat diatasi dengan perasaan dan akal pikiran.”
            “Demi Allah kami bersumpah!”Mereka masih mendesak. “Tidakkah Anda lihat keadaan kita sekarang begini? Tidakkah Anda lihat Islam? Kita sekarang sedang dibakar fitnah!Tidakkah Anda takut kepada Allah?”
            “Kalau saya setujui saya telah membebani kalian yang saya ketahui. Kalua kalian biarkan saya, tak lebih saya sama  dengan kalian, hanya saja sayalah yang patuh terhadap siapapun yang kalian pilih.”
            “Kami tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum Anda kami baiat,”kata mereka.
            Orang sudah tahu, bahwa dalam soal pertalian darah Ali bin Abi Thalib adalah orang terdekat kepada Nabi. Dia sepupu Nabi, sejak kecil sudah bersama-sama, Muslim pertama di kalangan pemuda dan di kalangan  Bani Hasyim, diserahi mengurus barang-barang amanat  yang ditinggalkan di Mekkah saat Nabi hijrah ke Madinah, yang dipersaudarakannya waktu hijrah, sebagai anggota keluarga yang sehari-hari mendampinginya, sebagai salah seorang penulis wahyu, sebagai suami Fatimah putrid Nabi, dan terus mendampinginya sampai yang terakhir dia pula yang mengurus Rasulullah ketika sakit hingga meninggalnya dan memandikan jenazah  yang suci itu, dan mengantarkan jenazahnya sampai ke pemakaman dan yang turun ke liang lahad. Memang, Ali adalah kepercayaan Rasulullah dalam soal-soal keluarga, diminta  menjaga keluarganya ketika Nabi berangkat ke medan perang di Tabuk, walaupun dalam kesempatan lain ia ikut dalam semua perang, kecil dan besar dan yang diserahi membawa bendera Nabi. Seperti kata Nabi kepada Ali, bahwa kedudukan Ali disamping Rasulullah adalah seperti Harun di samping Musa, hanya saja tak ada Nabi lagi sesudah Muhammad.
            Nabi tidak mencampuradukkan soal keluarga dengan soal-soal umum. Nabi meminta Abu Bakr menemaninya ketika hijrah dan menunjuknya pula untuk menggantikannya menjadi imam salat ketika ia sakit.
            Ali sudah tahu benar, Rasulullah melarang orang meminta-minta jabatan. Tetapi sekarang mereka yang meminta, mendesaknya untuk memikul tugas dan tanggung jawab itu, dan diapun suddah tak dapat mengelak.
            Kalau begitu di Masjid saja. Baiat harus terbuka dan dengan persetujuan Muslimin,”kata Ali akhirnya.
            Ia pun pergi ke Masjid. Pada Senin 21 Dzulhijjah 35/20 Juni 656 itu Ali bin Abi Thalib dibaiat, dan orang yang pertama yang membaiat adalah Thalhah bin Ubaidillah, seraya berkata:”Yang pertama melakukan baiat tangan yang sudah lumpuh ini,”katanya. Setelah itu baiat disusul oleh Zubair, ada juga yang menyebutkan bahwa Zubair tidak segera membaiatnya.
2.4     Kontribusi Masa Pemerintahan Ali bin Abi Thalib
                        Sebagai pemimpin khalifah yang baru,Ali dihadapkan pada masalah-masalah yang berat.Itu sebabnya Ali bin Abu Thalib harus berpikir panjang . Ia tidak lagi hanya berpikir tentang Bani Hasyim , apalagi tentang dirinya . Dia harus memikirkan islam dan umat islam serta masa depannya . Apapun yang terjadi Ammirulmikminin harus maju terus . Sebagai konsekuensinya ia merasa mempunyai tanggung jawab dalam menghadapi semua masalah yang terjadi apalagi masalah sepeninggal khalifah Usman,yaitu masalah korup para pejabat pada masa itu . Sikap Ali yang paling ketat terhadap pejabat korup , berkhianat memakan harta umat , seperti yang pernah terjadi . Ali memang melarang orang menimbun kekayaan secara berlebihan sementara rakyat banyak yang dalam kekurangan .
                                    Ali bin Abi Thalib juga rela mengorbankan diri demi keadilan dan kebenaran untuk melawan setiap kejahatan . seperti komitmennya untuk menemukan siapa pembunuh Usman bin Affan . Selain itu kontribusi Ali yang lain yaitu pada pengangkatan tiga gubernur baru yang korup pada masa Usman bin Affan . Dalam mengganti para Gubernur itu tindakan Ali yang cukup bijaksana ketika mengangkat Usman bin Hunaif al-Ansari untuk Basrah menggantikan Abdullah bin ‘Amir , Sahl bin Hunaif , saudaranya,  untuk Syam menggantikan Mu’awiyah , Qais bin Sa’d Ubadah untuk Mesir . menggantikan Abdullah bin Sa’d. Ketiganya adalah dari kalangan Ansar terkemuka.
                                    Amirulmukminin terus melangkah mengadakan  pembersihan dalam lingkungan pejabatnya . Untuk menggantikan para Gubernur lama ia mengangkat sepupunya Ubaidillah bin Abbas untuk Yaman menggantikan Ya’la bin Umayyah . Selain memberantars korup pada tubuh pejabat , program kerja Ali yang lain yaitu usaha untuk mencari dan mengusut pembunuh Usman .
                        Kekhalifahan baginya adalah suatu amanat Allah kepada hamba-Nya agar menciptakan perdamaian , keamananan , dan kesejahteraan bagi umat bukan untuk kekuasaan atau kepentingan pribadi . Ia melihat bahwa dalam banyak peristiwa para gubernur yang diangkat oleh Usman harus bertanggung jawab . Tanpa basa-basi ia memecat mereka yang enggan memberikan perhatian terhadap kegiatan para pemberontak di daerah mereka masing-masing . Menurut keyakinannya , kebenaran dan keadilan tak boleh dimaafkan untuk mengambil keuntungan politik demi kepentingan dirinya atau golongan , yang sifatnya duniawi.
                                    Sekarang Ali telah terpilih sebagai khalifah . Dia akan dihadapkan dengan bebagai masalah berat . Semua itu akan dihadapinya dengan tanggung jawab . Yang kini menjadi kerisaunnya adalah pemberontak dan penangkapan para pembunuh khalifah Usman . Seperti juga harus menjaga toleransi terhadap kaum zimmi,minoritas penganut agama lain , yahudi , majusi dan kristiani yakni hak-hak dan kewajiban mereka . Kepada mereka hanya dikenakan pajak jiszyah . Memberi pelajaran kepada Muslimin.
                                    Setelah terjadi banyak pemberontakan yang terjadi di Syam,Basrah dan munculnuya peristiwa unta dan perang shiffin sampai tahkim yang menyebabkan terbunuhnya Ali bin Abi Thalib . Khalifah Ali juga pernah memindahkan ibu ktanya ke Kufah . Ia memilih Kufah menjadi Ibu kota karena ia tidak ingin mengorabankan kota suci Madinah menjadi permaianan polotik yang kotor . Kota ini telah dinodai oleh kaum pemnerontak dengan tindakan-tindakannya yang biadab dan sudah keluar dari norma agama.
2.5     Kesulitan Yang Dihadapi Pada Masa Pemrintahannya
                        Tugas Amirulmukminin sekarang cukup berat . Berbagai tuntutan dibebankan kepadanya , dan minta cepat-cepat diselesaikan , menangkap dan menghukum para pembunuhannya , padahal tugas pokok yang juga mendesak harus diselsesaikan adalah masalah keamanan dan ketertiban umum,sesuai dengan program kerjanya , kendati pengungkapan kasus pembunuhan itu tetap menjadi prioritas utamanya.Tidak hanya itu tantangan yang terjadi dan dihadapi oleh Ali bin Abi Thalib  juga datang dari negeri Syam , di bawah pemimpinan Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang suadah mendapat angin panas , terutama dari golongana Bani Umayyah dan beberrapa orang pelarian dari Madinah setelah terjadi pembunuhan Usman. Orang bersimpati terhadap Ali karena dia begitu toleran , begitu ikhlas membantu semua pihak, tanpa punya ambisi sedikit pun untuk berebut kedudukan . Semua itu dilakukanya dengan ikhlas demi islam dan demi persatuan umat.
                        Tapi mengapa sekarang , sesudah Ali terpilih , sesudah tak ada lagi Abu Bakr , tak ada lagi Umar dan Usman , Ali akan dibiarkan seorang diri , padahal ia dipilih oleh suara terbanyak penduduk Hijaz. Ada yang tetap setia, ada yang beroposisi bagitu keras di luar Bani Umayyah , seperti Thalhah dan Zubair, dan ada yang bersikap netral seperti Sa’s bin Waqqas ,Muhammad bin Msalamah,Usamah bin Zaid,dan Abdullah bin Umar.Tidak sampai di situ saja kesulitan yang dihadapi oleh khalofah Alii bin Abi Thalib,tapi di Basrah beliu juga mendapatkan cobaan yang begitu luar biasa, kejadian ini sering disebur Insiden Unta (656).Insiden ini berakibat pada buyarnya rencana perdamaian dan memakan jatuhnya banyak korban . Ali sangat sedih atas peristiwa itu . Ia berusaha menghentikannya tapi nyala api sudah semakin besar dan sulit untuk di padamkan.
                        Pada subuh itu pasukan Aisyah , melaporkan tentang situsi dan menyatakan agar ia naik unta yang tertutup sehingga dihrapkan suasana akan bisa diredakan  . Tetapi yang terjadi malah sebaliknya , penduduk Basrah mengira Aisyah datang ke medan pearang untuk memerangi mereka.Akhirnya keributan pun tak terelakkan lagi Ali melihat anak panah menghujani sahabat-sahabatnya.Keterlibatan Ali dan Aisyah dalam peristiwa itu telah membawa malapetaka bagi umat ,sekalipun kemudian hanya akan mendatangkan penyesalan dari kedu belah pihak .
                        Pemberontakan pun juga dilakukan oleh Mu’awiyah untuk menjatuhkan Aki dari kursi kepemimpinanya.Mu’awiyah memiliki banyak mata-mata di Irak untuk membujuk secara diam-diam agar mereka mau untuk memilihnya , berbeda dengan Ali yang sedikitpun tidak ada pikiran untuk berambisi dengan melakukan hal-hal sserupa.Mu’awiyah hendak terus bertahan di Damsyik . Ia mengundang para pemuka Syam dan pimpinan militer degan mengemukakan maksud Ali untuk segera betindk terhadap Syam dan sekaligus mendramatisasi pembunuhan atas khalifah ke 3 yaitu Usman bin Affan.Meskipun Ali telah berusaha untuk bersikap damia dengan mengirim surat kepada Mu’awiyah tapi , Mu’awiyah tetap pada jalannya sendiri dengan mencaari dukungan pada pemuka – pemuka Syam.
                        Ali melihat bahwa situasi sudah semakin memanas . Ia meminta orang bersiap-siap . Ada 50000 orang memenuhi seruan itu ,mereka berkumpul disekitarnya dan siap untuk berangkat ke Suria.Di pihak Mu’awiyah juga  sudah mempersiapkan kekuatan yang lebih besar dan cepat-cepta menempati posisi yang strategis di seberang Shiffin,sementara Ali bermarkas di Shiffin.Walaupun pembangkangan terhadap khalifah sudah merupakan pemberontakan dan dapat dijatuhi hukuman mati,Amirulmukminin berusaha tidak melakukan tindakan kekerasan ia masih mencoba untuk melakukan perundingan-perundingan dengan pihak Mu’awiyah, yang juga disambut serupa.
                        Pada mulanya pihak Mu’awiyah maupun Ali enggan untuk berperang melawan sesama Muslim.Itu sebabnya kedu belah pihak ketika terjadi kontak senjata secara keci-kecilan berusaha untuk mencari jalan damai.
                        Perang Shiffin sebenarnya sudah hampir dimenangkan oleh pihak Amirulmukminin . Dalam situasi semacam ini muncul politikus ulung yang bernama Amr bin al- As,diplomat yang cukup terkenal di Semenanjung Arab.Ia pandai mencari jalan keluar dlam masalah sulit yang dihadapi.Ia menyarankan kepada Mu’awiyah agar anggota-anggoatnya yang digaris depan mengikatkan mushaf Quran ke ujung tomabak sebagai tanda bahwa perang harus dihentikan dan diadakan perundingan dengan keputusan berdasarkan Quran.Cara ini kemudian dikenal dengan istilah tahkim.Melihat mushaf diletakkan di ujung tombak Ali menjadi sangsi.Ali menrasa bahwa itu semua adalah tipu muslihat dan pengikut Ali yang baik mengikuti ajakan tersebit sedangkan yang lain menyarankan untuk tetap berperang melawan Mu’awiyah.
                        Perbedaan pendapat itu menyebabakan pecahnya kelompok Ali menjadi 2 yaitu golongan yang setia pada Ali atau syi’atu Ali dan golongan yang menentang Ali atau disebut Khawarij.
2.5       Munculnya Khawarij
                        Awal mula munculnya gerakan Khawarij ini adalah sewaktu al-Asy’ast bin Qias melewati sekelompok orang dari Bani Tamim, beliau membacakan kepada mereka piagam perdamaian. Lalu bangkitlah Urwah bin Udayyah. Uadayyah adalah ibunya, bapaknya bernama Hudair, berasal dari Bani Rabi’ah  bin Hanzhalah, ia berkata,” Apakah engkau mengangkat manusia sebagai hakim dalam agama Allah?”Kemudian ia memukul bagian belakang hewan tunggangannya al-Asy’ast dengan pedangnya. Al-Asy’ats dan kaumnya marah melihat perlakuannya itu. Lalu al-Ahnaf bin Qais at-Tamimi dan sejumlah tokoh Bani Tamim dating meminta maaf kepada al-Asy’ats atas kejadian tersebut.
           
2.6     Peristiwa Terbunuhnya Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib
            Amirul Mukminin menghadapi masalah yang berat, kondisi Negara saat itu tidak stabil, pasukan beliau di Iraq dan di daerah lainnya membangkang perintah beliau , mereka menarik diri dari pasukan.Kondisi di wilayah Syam juga semakin memburuk.Penduduk syam tercerai berai ke utara dan selatan.Setelah peristiwa tahkim penduduk Syam menyebut Mu’awiyah sebagai amir.Seiring bertambahnya kekuatan penduduk Syam semakin lemah pula penduduk Iraq. Padahal amir mereka adalah Ali binAbi Thalib, sebaik-baik manusia di atas muka bumi pada zaman itu, beliau yang paling taat, paling zuhud, paling alim, dan paling takut kepada Allah. Namun walaupun demikian,mereka meninggalkannya dan membiarkannya seorang diri.Padahl Ali telah memberikan hadiah-hadiah yang melimpah dan harta-harta yang banyak.Begitulah perlakuan mereka terhadap beliau,hingga beliau tidak ingin hidup lebih lama dam mengharapkan kematian.Karena benyaknya fitnah dan merebaknya pertumpahan darah.Beliau sering berkata, “ Apakah gerangan yang menahan peristiwa yang dinanti-nanti itu ? Mengapa ia belum juga terbunuh?” Kemudian beliau berkata,”Demi Allah, aku akan mewarnai ini sembari menunjuk jenggot beliau dari sini!”sembari menunjuk kepala beliau.
2.7     Kronologis Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib
Ibnu Jarir dan pakar-pakar sejarah lainnya menyaebutkan bahwa tiga orang Khawarij berkumpul, mereka adalah Abdurrahman bin amru yang di kenal dengan sebutan Ibnu Muljam al-Himyari al-Kindi sekutu Bani Jabalah dari suku Kindah al-Mishri,al-Burak bin Abdillah at-Tamimi dan Amru bin Bakr at-Tamimi. Mereka mengenang kembali perbuatan Ali binAbi Thalib yang membunuh teman-teman mereka di Nahrawan, mereka memohon rahmat buat teman-teman mereka itu.Mereka berkata,”Apa yang kita lakukan sepeninggal mereka?Mereka adalah sebaik-baik manusia dan yang paling banyak shalatnya, mereka adalah penyeru manusia kepada Allah.Mereka tidak takut celaan orang-orang yang suka mencela dalam menegakkan agama Allah.Bgaimana kalau kita tebus diri kita bunuh mereka sehingga kita membebaskan Negara ini dari kejahatan mereka dan kita dapat membalas demdam atas kematian teman-teman kita.”
            Ibnu Muljam berkata,”Aku akan menghabisi Ali bin Abi Thalib!”
            Al-Burak bin Abdillah berkata,”Aku akan memnghabisi Mu’awiyah bin Abi Sufyan.”
            Amru bin Bakr berkata,”Aku akan menghabisi Amru bin al-Ash.”
            Merekapun berikrar dan mengikat perjanjian untuk tidak mundur dari niat semula sehingga masing-masing berhasil membunuh targetnya atau terbunuh.Merekapun mengmbil pedang masing-masing sambil menyebut nama sahabat yang menjadi targetnya.Mereka sepakat melekukannya serempak pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H. Kemidian ketiganya berangkat menuju tempat target masing-masing.
            Adapun Ibnu Muljam berangkat ke Kufah.Setibanya di sana ia menyembunyikan identitas, sehingga terhadap teman-temannya dari kalangan Khawarij yang dahulu bersamanya. Ketika ia sedang  duduk-duduk bersama beberapa orang dari Bani Taim ar-Ribab, mereka mengenang teman-teman mereka yang terbunuh pada peperangan Nahrawan. Tiba-tiba datanglah seorang wanita bernama Qatham binti Asy-Syijnah, ayah dan abanya dibunuh oleh Ali pada peperangan Nahrawan. Ia adalah wanita yang sangat cantik dan popular. Dan ia telah mengkhususkan diri beribadah dalam masjid Jami’. Demi melihatnya Ibnu Muljam mabuk kepayang. Ia lupa tujuannya dating ke Kufah.Ia meminang wanita itu. Qatham mensyaratkan mahar tiga ribu dirham, seorang khadim, budak wanita dan membunuh Ali Bin Abi Thalib untuk dirinya. Ibnu Muljam berkata,”Engkau pasti mendapatkannya,demi Allah tidaklah aku dating ke kota ini melainkan untuk membunuh Ali.”
            Lalu Ibnu Muljam menikahinya dan berkumpul dengannya. Kemudian Qathami mulai mendorongnya untuk  melaksanakan tuganya itu. Ia mengutus seorang lelaki dari kaumnya bernama Wardan, dari Taim Ar-Ribab, untuk menyertainya dan melindunginya.Lalu Ibnu Muljam juga menggaet seorang lelaki lain yang bernama Syabib bin Bajrah al-Asyja’I al-Haruri. Ibnu Muljam berkata kepadanya,” Maukah kamu memperoleh kemuliaan dunia akhirat ?”
            “Apa itu?”Tanyanya.
            “Membunuh Ali!”Jawab Ibnu Muljam.
            Ia berkata, “Celaka engkau, engkau telah mengatakan perkara yang sangat besar! Bagaimana mungkin engkau mampu membunuhnya?”
            Ibnu Muljam berkata,” Aku mengintainya di masjid, apabila ia keluar untuk mengerjakan shalat subuh, kita mengepungnya dan kita membunuhnya. Apabila berhasil maka kita merasa puas dan kita telah membalas dendam.Dan bila kita terbunuh maka apa yang tersedia di sisi Allah lebih baik dari pada dunia.”
            Ia berkata,”Celaka engkau, kalaulah orang itu bukan Ali tentu aku tidak keberatan melakukannya,engkau tentu senioritas beliau dalam islam dan keberatan beliau dengan Rasulullah. Hatiku tidak terbuka untuk membunuhnya.
            Ibnu Muljam berkata,”Bukankah ia telah membunuh teman-teman kita yang telah di Nahrawan?”
            “Benar!”Jawabnya.                                  
            “Marilah kita bunuh ia sebagai balasan bagi teman-teman kita yang telah dibunuhnya”kata Ibnu Muljam.
            Beberapa saat kemudian Syabib menyambutnya.
            Masuklah bulan Ramadhan.Ibnu Muljam membuat kesepakatan dengan teman-temannya pada malam Jum’at 17 Ramadhan. Ibnu Muljam berkata,”Malam itulah  aku membuat kesepakatan dengan teman-temanku untuk membunuh target masing-masing. Lalu mulailah ketiga orang ini bergerak, yakni Ibnu Muljam, Wardan dan Syabib, dengan menghunus pedang masing-masing. Mereka duduk dihadapan pintu yang mana Ali biasa keluar darinya. Ketika Ali keluar, beliau membangunkan orang orang untuk shalat sembari berkata,” Shalat…..shalat!”Dengan cepat Syabib menyerang dengan pedangnya dan memukulnya   tepat mengenai leher beliau. Kemudian Ibnu Muljam menebaskan pedangnya ke atas kepala beliau. Darah beliau mengalir membasahi jenggot beliau.Ketika Ibnu Muljam menebasnya, ia berkata,” Tidak ada hokum kecuali milik Allah, bukan milikmu dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!”
            Ali berteriak, “ Tangkap mereka!”
            Adapun Wardan melarikan diri namun berhasil dikejar oleh seorang lelaki dari Hadhramaut lalu membunuhnya. Adapun Syabib, berhasil menyelamatkan diri dan selamat dari kejaran manusia. Sementara Ibnu Muljam berhasil ditangkap.
            Ali menyuruh Ja’dah bin Hubairah bin Abi Wahab untuk mengimami Shalat Fajar. Ali pun dibopong ke rumahnya.Lalu digiring pula Ibnu Muljam kepada beliau dan dibawa kehadapan beliau dalam keadaan dibelenggu tangannya ke belakang pundak, semoga Allah memburukkan rupanya.Ali berkata kepadanya,”Apa yang mendorongmu melakukan ini ?” Ibnu Muljam berkata,” Aku telah mengasah pedang ini selama empat puluh hari. Aku memohon kepada Allah agar aku dapat membunuh dengan pedang ini mahklukNya yang paling buruk!”
            Ali berkata kepadanya,” Menurutku engkau harus terbunuh dengan pedang itu.Dan menurutku engkau adalah orang yang paling buruk.”
            Kemudian beliau berkata,”Jika aku mati maka bunuhlah orang ini, dan jika aku selamat maka aku lebih tahu bagaimana aku harus memperlakukan orang ini!”

2.8     Pemakaman Jenazah Ali bin Abi Thalib
           Setelah Ali wafat, kedua puteranya yakni al-Hasan dan al-Husein memandikan jenazah beliau dibantu oleh Abdullah bin Ja’far.Kemudian jenazahnya dishalatkan oleh kedua puteranya tertua beliau, yakni al-Hasan bertakbir sebanyak Sembilan kali.
            Jenazah beliau dimakamkan di Darul Imarah di Kufah, karena kekhawatiran kaum Khawarij akan membongkar makam beliau.Itulah yang masyhur. Adapun yang mengatakan bahwa jenazah beliau diletekkan di atas kendaraan beliau kemudian dibawa pergi entah kemana perginya maka sungguh ia telah keliru dan mengada-ngada sesuatu yang tidak diketahuinya. Akal sehat dan syariat tentu tidak membenarkan hal semacam itu.Adapun keyakinan mayoritas kaum  Rafidhah yang jahil bahwa makam beliau terletak ditempat suci Najaf, maka tidak ada dalil dan dasarnya sama sekali. Ada yang mengatakan bahwa makam terletak di sana adalah makam al-Mughirah bin Syu’bah.

            Al-Khathib al-Baghdadi meriwayatkan dari al-Hafizh Abu Nu’aim dari Abu Bakar Ath-Thalahi dari Muhammad bin Abdillah al-Hadhrami al-Hafizh Muthayyin, bahwa ia berkata,” Sekiranya orang-orang Syi’ah mengetahui makam siapakah yang mereka agung-agungkan di Najaf niscaya mereka akan lempari dengan batu.Sebenarnya itu adalah makam al-Mughirah bin Syu’bah.
            Al-Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan dari al-Hasan bin Ali, ia berkata,”Aku mengebumikan jenazah Ali di kamar sebuah rumah milik keluarga Ja’dah.
            Abdul Malik bin Umair bercerita,”Ketika Khalid bin Abdullah menggali pondasi di rumah anaknya bernama Yazid, mereka menemukan jenazah seorang Syaikh yang terkubur di situ, rambut dan jenggotnya telah memutih. Seolah jenazah itu baru dikubur kemarin. Mereka hendak membakarnya, namun Allah memalingkan niat mereka itu. Mereka membungkusnya dengan kain Qubathi, lalu diberi wewangian dan dibiarkan terkubur di tempat semula. Tempat itu berada dihadapan pintu al-Warraqin setelah kiblat masjid di rumah tukang sepatu. Hampir tidak pernah seorang pun bertahan di tempat itu melainkan pasti akan pindah dari situ.
            Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, ia berkata,”Jenazah Ali dishalatkan pada malam hari dan dimakamkan di Kufah, tempatnya sengaja dirasiakan, namun yang pasti di dekat gedung imarah(istana kepresidenan).”
            Ibnu Kalbi berkata,”Turut mengikuti proses pemakaman jenazah Ali pada malam itu al-Hasan, al-Husain, Ibnu Hanafiyyah, Abdullah bin Ja’far dan keluarga ahli bait beliau yang lainnya.Mereka memakamkannya di dalam kota Kufah, mereka sengaja merahasiakan       makam beliau karena kekhawatiran terhadap kebidanan kaummm Khawarij dan kelompok-kelompok lainnya.
2.9     Tanggal Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib dan Usia Beliau
            Ali terbunuh pada malam Jum’at waktu sahur pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H. Ada yang mengatakan     pada bulan Rabi’ul Awwal. Namun pendapat pertama lebih shahih dan popular.
            Ali ditikam pada hari Jum’at 17 Ramadhan tahun 40 H, tanpa ada perselisihan.
            Ada yang mengatakan beliau wafat pada hari beliau ditikam, ada yang mengatakan pada hari Ahad tanggal 19 Ramadhan.
            Al-Fallas berkata,”Ada yang mengatakan, beliau ditikam pada malam dua puluh satu Ramadhan dan wafat pada malamm dua puluh empat dalam usia 58 atau 59 tahun.
            Ada yang mengatakan , wafat dalam usia 63 tahun.Itulah pendapat yang mahsyur, demikian dituturkan oleh Muhammad bin al-Hanafiyah, Abu Ja’far al-Baqir, Abu Ishaq as-Sabi’I dan Abu Bakar bin ‘Ayasi. Sebagian ulama lain mengatakan, wafat dalam usia 63 atau 64 tahun. Diriwayatkan dari Abu Ja’far al-Baqir, katanya,”Wafat dalam usia 65 tahun.”
            Masa kekhalifahan Ali lima tahun kurang tiga bulan. Ada yang mengatakan empat tahun Sembilan bulan tiga hari. Ada yang mengatakan empat tahun delapan bulan dua puluh tiga hari, semoga Allah meridhai beliau .

Sabtu, 03 Desember 2011

Panduan Bahasa Arab


 KALAM – الكلام
Kalam (indonesia: kalimat) adala lafadz yang disusun dan memberi faidah serta sengaja diucapkan oleh mutakallim (orang yang berbicara).Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Kalam terdiri atas 4 syarat yaitu :
  1. Lafadz ; yakni suara yang mencakup salah satu huruf hijaiyyah dan keluar dari lisan manusia.
  2. Murakkab (tersusun) ; yaitu tersusunnya kalam dari dua kalimah (Kata) atau lebih.
  3. Mufid (berfaidah) ; maksudnya suatu kalam harus dapat dimengerti oleh orang yang mendengarkannya.
  4. Wadh’i (disengaja) ; kalam harus disengaja/ dalam keadaan sadar ketika diucapkan.
Kalam dikatakan sempurna jika sudah memenuhi keempat syarat tersebut, contoh ucapan  seseorang  الله اكبر yang diucapkan ketika berdzikir. Kalam tersebut sudah sempurna,  karena dapat dilafadzkan berupa kalimah الله dan اكبر , tersusun dari dua kalimah, dan maknanya dapat difahami.Adapun seperti ucapan إِنَّ الله tanpa ada kelanjutannya tidak termasuk kalam karena tidak dapat difahami, atau seperti kicauan burung dan igauan orang tidur juga tidak termasuk kalam karena tidak termasuk lafadz dan tidak wadh’i.Kalam tersusun atas tiga unsur yang disebut kalimah, yaitu kalimah isim, kalimah fiil dan kalimah huruf.  berikut penjelasannya masing-masing ;
KALIMAH ISIM (Kata Benda)
Kalimah isim adalah kalimah yang mempunyai makna tersendiri dan tidak disertai zaman dalam penggunaannya.
Tanda – Tanda Kalimah isim
  1. Muthlaqul jarr (dijarkan) yaitu kalimah yang menerima i’rob jar, karena tidak ada kalimah yang menerima i’rob jar selaian kalimah isim. Contoh : lafadz الله dalam susunan رسول اللهِ.
  2. Tanwin Khasah, maksudnya setiap kalimah yang ditanwin (Khasah) adalah kalimah isim. Contoh : lafadz غَنِيٌ pada kalimat الله غني
  3. Masuknya alif lam, setiap kalimah yang dimasuki alif lam adalah kalimah isim. Contoh seperti lafadz حمد menjadi الحمد
  4. Masuknya salah satu harful jar, Harful Jar seluruhnya ada 10 yaitu ; من وإلى وعن وعلى وفي ورب والباء والكاف واللام وحروف القسم وهي : الواو والباء والتاء jika ada kalimah dimasuki salah satu huruf tersebut, berarti kalimah tersebut adalah kalimah isim contoh ; فى المسجد
Beberapa istilah dalam kalimah isim
Isim Dzohir dan Domir
Isim Dzohir adalah kalimah isim yang menunjukkan terhadap yang dinamainya secara muthlak. Bukan kata ganti dari isim lain, tetapi maknanya sudah tertentu yaitu hanya bagi satu benda atau jenis benda tertentu. Contoh : Nama Orang : محمد Nama Tempat :   مكةNama Jenis hewan : إبل
Isim Dhomir (Kata Ganti) adalah isim yang menunjukkan terhadap yang dinamainya dan menjadi ganti dari kalimah lain,  pergantian tersebut adakalanya untuk Mutakallim (Kata Ganti Orang pertama), Mukhatab(Kata Ganti orang kedua) dan Ghaib (Kata ganti Orang ketiga). Contoh lafadz  اياك dalam ayat اياك نستعين , lafadz tersebut menunjukkan mufrad mudzakar mukhatab (seorang laki-laki yang berada ditempat mutakallim : orang kedua).
Isim dhomir dilihat dari beberapa aspek :

Puisi

ku Melihat bint4ng


d4n terny4ta ......................




berSinar..........................